Membangun Komunikasi Lintas Agama Yang Konstruktif dan Produktif

Karawang - Masyarakat Indonesia pada dasarnya bersifat majemuk. Masyarakat Indonesia yang majemuk merupakan kekayaan bangsa yang sangat penting. Indonesia berhiaskan ratusan suku bangsa yang tersebar dan dipersatukan dalam sistem nasional sebagai sebuah negara kesatuan Indonesia. Masyarakat majemuk Indonesia telah menjadi indentitas yang berharga. Tapi di sisi lain, pluralitas pada masyarakat Indonesia berpeluang menjadi hambatan terhadap integrasi sosial.

Masyarakat Indonesia selalu menghadapi kecenderungan kritis mengidap konflik kronis dalam hubungan-hubungan antar kelompok. Jika terjadi konflik, para pelaku konflik cenderung memandang ketegangan sesuai dengan pola pemikiran dan persepsinya sendiri. Biasanya para pelaku selalu memandang konflik sebagai genderang perang. Tentu hal tersebut harus menjadi perhatian penting mengingat bahwa konflik yang terjadi pada masyarakat Indonesia terkait dengan suku, agama, ras, dan golongan.

 

Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya konflik antar umat bergama di Indonesia. Yang pertama adalah karena adanya pendekatan ideologi terhadap ajaran dan nilai agama. Di Indonesia, ideologi membuat banyak penafsiran yang harus ditaati dalam agama. Sehingga kekecewaan akan berlarut dalan gerakan fundamentalis dan fanatisme semakin menjamur.

Kedua, penyeretan agama ke dalam kepentingan pribadi demi keuntungan kelompok tertentu. Agama dijadikan sebagai alat (legitimasi) demi kepentingan tertentu. Politik dan ekonomi selalu menjadi sasaran dalam legitimasi tersebut. Ketiga, kebenaran tuhan/Illahiah pada setiap agama bisa menjadi alat provokasi apabila ada kesalahpahaman. Setiap pemeluk akan mengunggulkan agamanya masing-masing, merasa paling suci, agung, dan yang paling benar.

Selain itu, pemicu konflik antar umat bergama bisa terjadi akibat adanya ambiguitas sikap, keserakahan manusia, dan pemahaman tetutup pada nilai esensi fundamental agama yang banyak melahirkan distrosi. Akibatnya membuat agama terlihat sebagai pemicu konflik. Esensi agama sudah kodratnya menjadi rangkaian solusi dalam pemecahan masalah sosial.

 

Salah satu kesempatan antar umat beragama untuk hidup rukun adalah dengan menjalankan komunikasi antar agama untuk mencapat titik temu perdamaian. Komunikasi antar umat beragama bertujuan untuk memperkuat persamaan, memperkecil perbedaan, agar terjalin kesepahaman dan bisa menghormati satu sama lain.

Dalam komunikasi antar umat beragama, manajemen komunikasi yang meliputi proses, interpretasi, atau pemaknaan yang dibangun dimulai dari interaksi antar umat. Kemampuan berkomunikasi antar umat bisa dimulai dengan saling memahami cara berpikir masing-masing. Kemudian pengelolaan kesan bisa dimulai melalui simbol verbal dan non verbal para pemuka agama dan pengikutnya.

Sebagai umat Islam, kita seharusnya bisa belajar dan banyak memetik intisari dari apa yang pernah dilakukan Rasulullah Saw. Piagam Madinah menjadi pelajaran konkrit yang bisa dijadikan contoh dalam membangun komunikasi lintas agama yang konstruktif dan produktif. Piagam Madinah telah mengatasi segala pertentangan sengit yang melibatkan setiap kelompok yang bertikai pada zamannya. (BR)