MILAD ICMI KE-30

Milad ICMI yang ke-30 merupakan usia yang cukup matang dalam ukuran dan perkembangan,  

suatu organisasi . “Oleh karena itu dalam usia yang matang ini, merupakan masa di mana ICMI  

wajib memberikan kontribusi yang strategis dalam menyelesaikan persoalan-persoalan  

kehidupan bangsa dan keumatan,”. Hal tersebut dikatakan Prof. Dr. H. Mohammad Najib,  

M.Ag Ketua ICMI Orwil Jabar selaku Ketua Penyelenggara Milad ICMI ke 30 dalam  

laporannya yang digelar Senin,7 Desember 2020 di Gedung Merdeka Bandung. Acara yang  

dipandu oleh Hj.Ida Rosdiana,M.Ikom, diawali dengan lantunan ayat Suci Al-Quran yang  

disampaikan Hj.Didah Duurrotun Nafsiah.,.M.Ag serta Doa dipimpin Prof. Dr. KH.  

Badruzzaman., M.Ag.

Lebih lanjut Prof. Dr. H. Mohammad Najib, M.Ag, kami selaku Ketua Penyelenggara,  

mengucapkan syukur ke hadirat Illahi Robbi dengan ditunjuknya Jawa Barat sebagai  

penyelenggara Milad ke 30 dan dapat dapat dilaksanakan di Gedung Merdeka, Jalan Asia  

Afrika, yang meruPakan Gedung yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur Jawa Barat beserta  

jajarannya, Pemerintah Kota Bandung khususnya Gugus Tugas Covid-19, Kepolisian mulai  

dari Polsek Sumur Bandung, Polrestabes Bandung serta Jajaran Polda Jabar yang terus  

membantu dan memberikan arahan, supaya pelaksanaan Milad dapat dilaksanakan sesuai  

dengan Protokol Kesehatan, serta Kepala Dinas Keesehatan Provinsi Jawa Barat yang tekah  

menugaskan 4 orang petugas tenaga medis untuk melakukan Rapid Test me Gedung Merdeka.  

Alhamdulilah seluruh arahan dapat kami tempuh seluruh Panitia Acara dan petugas yang  

ada di Gedung Merdeka kami lakasanakan Rapid Test. Dan kepada para undangan yang hadir  

secara oflen yang jumlahnya hanya 50 orang, wajib menunjukan bukti hasil Rapid Test, dan undangan yang tidak dapat menunjukan hasil Rapid Test sebelum di ijinkan masuk wajib  

melaksanakan Rapid Test terlebih dahulu dimana Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat hadir  

dan membantu ICMI Jabar.  

Rangkaian acara lain yang merupakan Webinar Nasional menghadirkan beberapa narasumber,  

yakni Duta Besar RI di Amerika Serikat, Muhammad Lutfi, Duta Besar RI di Tiongkok Drs.  

Djauhari Oratmangun, Ekonom Senior Prof. Dr. Emil Salim, Ketua Wantim MUI Prof. Dr. M.  

Din Syamsudin, dan Pengamat Militer Dr. Connie Rahakundini Bakrie. Webinar tersebut  

menyajikan diskusi yang mengangkat tema “Evaluasi Kritis Kondisi Nasional dan Global  

terhadap Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”.

Dengan mengusung tema “Tantangan Indonesia di Kancah Dunia Pasca Covid-19,” kaum  

cendekiawan harus berperan dalam membantu pemerintah dalam penyelesaian persoalan  

pandemi Covid-19 di tanah air. Pemikiran baru dibutuhkan saat ini ketika bangsa sedang  

berhadapan dengan pandemi. Harapannya rekomendasi yang komprehensif bisa dihasilkan  

untuk penanggulangan pandemi Covid-19. Yang diikuti oleh Organisasi Wilayah dari dalam  

maupun luar negeri, Organisasi Daerah, Organisasi Satuan, Badan Otonom ICMI, serta  

undangan lainnya melalui Zoom Meeting, untuk itu kami menyediakan untuk 1000 peserta,  

tegas Prof Najib.

Sementara itu Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil atau Kang Emil dalam sambutannya

yang dilanjutkan Peluncuran 3 Program Unggulan ICMI , yaitu 2 Program dari ICMI Pusat: ICMI  

School dan Pengelolaan Keuangan Haji dan Potensi Kerjasama BPKH-ICMI dan ICMI Orwil

Jawa Barat meluncurkan e-Market Place kajojo.id, berharap hasil pertemuan Pertemuan  

Nasional dan Milad Ke-30 Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Gedung Merdeka  

Kota Bandung, Senin, bisa menghadirkan rumusan-rumusan untuk pembangunan Jabar.

"Mudah-mudahan berbanding lurus dengan kontribusi ICMI pada pembangunan Jabar," kata  

Kang Emil seusai membuka Pertemuan Nasional dan Milad Ke-30 ICMI, selaigus .  

Pertemuan tersebut dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan. Jumlah pengurus  

ICMI yang hadir dibatasi. Hanya pengurus ICMI Pusat yang hadir langsung, sedangkan  

pengurus ICMI Korwil se-Indonesia mengikuti pertemuan melalui konferensi video.

Kang Emil menyatakan bangga karena Ibu Kota Jabar itu dijadikan tempat untuk merumuskan  

tantangan Indonesia di kancah dunia pascapandemi COVID-19.  

Selain itu, ia menyampaikan bahwa di Gedung Merdeka, tempat pertemuan berlangsung,  

Presiden Republik Indonesia pertama Soekarno dan pemimpin negara Asia-Afrika pernah  

menyuarakan anti kolonialisme yang memberikan imajinasi tentang masa depan dunia.

"Imajinasi itu saya ingin tekankan lagi kepada ICMI, beri kami jalan penerang untuk tahun  

2045. Tinggal 25 tahun lagi apakah sampai Indonesia menjadi negara terhebat kedua atau  

ketiga di dunia, kita butuh kompas," katanya.  

Kang Emil memaparkan bahwa ada tiga syarat yang harus dipenuhi apabila Indonesia ingin  

mewujudkan Indonesia Emas 2045. Pertama adalah kondisi sosial-politik kondusif.  

"Saya doakan kita selalu menjadi bangsa yang damai dengan dasar Pancasila," ujarnya.

Syarat kedua yakni pertumbuhan ekonomi harus dijaga di angka lima persen. Namun, saat ini,  

perekonomian negara - negara di seluruh dunia terpukul pandemi COVID-19.

"Sekarang semua minus oleh pandemi COVID-19 yang mengajarkan bahwa urusan kesehatan  

bisa menghancurkan sisi ekonomi," katanya.  

Kang Emil berharap, perekonomian Indonesia kembali pulih secara perlahan, dan dijaga  

pertumbuhannya selama 25 tahun ke depan. "Maka Indonesia emas 2045 itu akan terwujud,"  

ucapnya.  

Syarat terakhir adalah sumber daya manusia (SDM) harus produktif dan kompetitif.

Menurut Kang Emil, ICMI berperan penting dalam menciptakan SDM tersebut.

"Syarat ketiga, SDM harus kompetitif dan produktif, ini menjadi salah satu dari peran ICMI  

menciptakan SDM andal," katanya.Indonesia pada 2045 diprediksi menjadi satu-satunya  

negara di dunia yang 75 persen populasinya dihuni oleh generasi muda.

"Ini bisa menjadi potensi atau malah jadi beban negara kalau tidak dikelola dengan baik,"  

ujarnya.

Sementara itu Ketua Umum ICMI, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH, dalam pidato orasinya antara lain  

mengtakan .; ICMI telah menyumbang untuk kembalinya Islam ke tengah-tengah kancah perjuangan  

dan pengabdian politik nasional selama dasawarsa terakhir Orde Baru, dan melancarkan proses transisi  

menuju demokrasi dan demokratisasi;

ICMI telah menyumbang bagi upaya kerukunan antar umat beragama dan penguatan peran yang  

seimbang dan proposrsional antar cendekiawan lintas agama untuk kemajuan bangsa di segala bidang  

kehidupan nasional;

ICMI telah memyumbang dengan penguatan atasan kepemimpinan Presiden B.J. Habibie dalam  

meletakkan dasar-dasar reformasi nasional yang menyeluruh dalam kebijakan kerangka transisional  

menuju praktik demokrasi dan demokratisasi menyeluruh, dimulai dengan Perubahan UUD 1945,  

penentuan sistem pemilihan Presiden langsung, sistem multi-partai, penguatan jaminan hak asasi  

manusia, dan sebagainya.

ICMI telah menyumbang untuk meningkatnya kesadaran mengenai pentingnya iptek dan  

keseimbangannya dengan imtaq dalam proses pembangunan nasional menuju tingkat peradaban  

bangsa yang semakin kuat di dunia;

ICMI juga telah menyumbangkan kesadaran akan pentingnya keseimbangan iptek dan imtaq itu dalam  

kancah pergaulan dunia Islam dengan berdirinya IIFTIHAR yang didukungoleh pelbagai organisasi  

Islam tingkat dunia.

ICMI juga telah menyumbang bagi dimulainya penerapan sistem ekonomi dan keuangan syari’ah serta  

dimulainya Gerakan untuk menghidupkan Gerakan kewirausahaan di kalangan umat Islam sebagai  

“ajaran sunnah Rasul” yang harus dijadikan prasyaratbagi upaya peningkatan ummat Islam dalam  

membangun peradaban bangsa dan peradaban dunia pada umumnya.

Tantangan Perkembangan Keislaman, Keindonesiaan Dan Kecendekiawanan Di Masa Depan

Dunia sedang dan akan terus mengalami perubahan besar-besaran sejak sebelum pandemi Covid-19  

dan Pasca Covid-19:

Akibat disrupsi teknologi, komunikasi di ruang publik yang diwarnai oleh fenomena: (i)  

deinstitusionalisasi politik dalam kegiatan bernegara dan benturan kepentingan antara komunikasi pribadi dan jabatan publik, (ii) meluasnya permusuhan dan ujaran kebencian di segala bidang dan  

antar orang dan antar golongan;

Semakin luasnya gelombang “Islamophobia” di dunia dan maraknya politik rasisme yang menurunkan  

kualitas demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia, seperti tercermin di pelbagai negara Eropa,  

New Zealand, India, Myanmar, dan bahkan di Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald  

Trump;

Terjadinya pandemic Covid-19 menyebabkan krisis sosial, ekonomi, dan politik nasional, regional,  

dan bahkan global, secara luas dan dalam waktu yang lama, ditambah lagi dengan ancaman PD3  

dengan kualitas persenjataan yang semakin canggih dan menghancur-leburkan kehidupan bersama;

Ancaman PD 3, secara militer ataupun secara ekonomi berpotensi membelah masyarakat dunia dalam  

skenario “the clash of civilizations” seperti yang pernah diramalkan oleh Samuel P. Huntington,  

terutama antara kubu Barat versus China, dimana umat Islam dan Dunia Islam akan ditarik-tarik untuk  

berpihak kepada salah satu kubu, atau sama-sama dimusuhi karena ancaman “Islamophoia”  

sebagaimana digambarkan di atas;

Makin meningkatnya jumlah umat Islam di dunia, di samping memberikan optimisme bagi umat Islam  

sendiri, juga menciptakan kekawatiran yang semakin memperkuat rasa takut akan ancaman “Islam”  

bagi kalangan umat Kristen dan Katolik di Eropa dan umat Hindu di Indonesia dan ummat Buddha di  

negara lain, seperti Myanmar. Sementara itu, tingkat pertumbuhan kuantitas penduduk Muslim  

tersebut Sebagian utamanya disebabkan oleh factor kelahiran, yang tidak otomatis mencerminkan  

kualitas SDM umat Islam d masa depan, tetapi, menempati posisi demografi sebagai penduduk usia  

muda dan produktif, dibandingkan dengan ummat non-Muslim yang mengalamai penuaan (aging  

societies).

Kunci Terpenting bagi Umat Islam dan Dunia Islam di masa depan adalah keharusan untuk  

berubah:

Dibutuhkan kesediaan yang sungguh-sungguh agar umat Islam dapat berubah melalui perenungan  

mendalam (Isro’) dan pemahaman yang tepa tatas dinamika kehidupan bersama dalam tatanan global,  

regional, nasional, dan bahkan lokal dari kedekatan jarak penghayatan dan sekaligus ketinggian jarak  

pemandangan (Mi’raj), sehingga tidak terjebak ke dalam problematika yang bersifat mikro, sectoral,  

dan miopik, melainkan memahami permasalahan secara utuh, padu dan mampu menawarkan dan  

memberikan solusi.

Umat Islam jangan mau ditarik-tarik untuk berperan sebagai pelengkap penderita, sebagai pendukung  

yang terikat untuk menari mengikuti suara gendang para pihak yang berseteru;

Umat Islam harus kompak bersatu, jangan mau diadudomba, dan bahkan harus mampu mengadakan  

kolaborasi sinergis dengan semua pemangku kepentingan untuk tujuan perdamaian berdasarkan  

prinsip kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial;

Untuk itu, umat Islam dan dunia Islam harus mampu tampil dengan sikap damai dan mendamaikan  

sesuai dengan hakim Islam sebagai agama damai, dan menonjolkan diri sebagai agama “Rahmatan  

lil’alamin”, rahmat bukan saja bagi semua manusia, tapi Rahmat bagi semesta alam.

Umat Islam dan Dunia Islam memiliki segala potensi untuk bekerjasama dengan pihak mana saja, baik  

dari kubu Barat ataupun dari kubu China. Karena itu, umat Islam tidak perlu mengambil sikap mutlak  

untuk anti-barat ataupun anti-China, baik dalam konteks global maupun dalam konteks kehidupan  

nasional.  

ICMI dapat dengan leluasa berhubungan dengan kalangan cendekiawan barat ataupun China;

ICMI pernah terlibat dalam upaya mengembangkan agenda dialog peradaban dengan menawarkan  

gagasan pertemua antara tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh politik dunia melalui “World Summit  

on Abrahamic Religions and Peace”, pada tahun 1999, namun belum terwujud. Sekarang, gagasan  

tersebut menjadi semakin relevan untuk diwujudkan untuk tujuan membangun kerukunan dan  

perdamaian dunia yang dipelopori oleh umat Islam (Suny dan Shi’ah), umat Kristiani (Katolik,  

Protestan, dan Orthodox), serta umat Yahudi;

ICMI juga sejak tahun 1999 terus terlibat dalam dialog lintas agama, khususnya antara Islam dan  

Konghuch. Bahkan, sampai sekarang, Ketua Umum ICMI terus menerus dipercaya sebagai salah  

seorang Ketua Kehormatan MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Konghuchu).

OPTIMISME MENUJU MASA DEPAN

Perkembangan menuju kuantitas sebagai umat beragama terbesar didunia dengan keharusan persiapan  

menuju kualitas dan integritas, yaitu ketinggian iptek dan kedalaman imtaq;

Anugerah kuantitas kekayaan SDA di dunia Islam harus ditransformasikan segera dengan peningkatan  

nilai tambah produksi dan perhitungan neraca jam kerja produktif yang semakin meningkat, baik dari  

segi kuantitasnya maupun dari segi kualitasnya, sehingga kuantitas dan kualitas SDA diimbangi  

dengan berfungsinya kuantitas dan kualitas SDM guna menyongsong kemajuan riel peradaban dunia  

Islam di masa depan.

Kuantitas dan kualitas SDA dan SDM umat Islam harus segera diimbangi dengan kesiapan kualitas  

pelembagaan sistem dan budaya kerja pasca-modern, sehingga dalil “alhaqqu bila nizhomm yaghlibuh  

al-bathil binnizhom” tidak akan terjadi dalam praktik di masa depan;

Dengan demikian, bangsa Indonesia khususnya, dan umat Islam dan dunia Islam pada umumnya dapat  

berperan penting dan menjadi penentu dalam (i) mencegah perang dan permusuhan antar bangsa, atau  

antar peradaban kemanusiaan, dan (ii) dapat berperan aktif dalam agenda kemanusiaan dunia  

berdasarkan prinsip kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial;

Tentu, di samping optimisme pada tataran dunia global tersebut di atas, optimisme di dalam negeri  

Indonesia sendiri juga jangan diabaikan dan disalahpahami.

Mungkin banyak orang di sekitar kita yang secara politik merasa terpinggirkan dan aspirasinya  

dihambat oleh praktik kekuasaan selama rezim pemerintahan yang didominasi oleh kekuatan politik  

yang kurang ramah kepada ICMI, tetapi percayalah bahwa dinamika kekuasaan itu datang dan pergi.  

“Tilkal ayyamu nudawiluha bainannas”. Tiga setengah tahun di tengah krisis Covid-19 dengan segala  

akibatnya, menuju 2024 kelak, adalah waktu yang sangat sebentar. Siapapun yang mempunyai aspirasi  

politik yang berbeda persiapkan diri dengan sebaik-baiknya dengan semangat perjaungan berjangka  

Panjang, bukan sekedar untuk mengambil dan merebut tetapi untuk berbagi dan menyumbang untuk  

bangsa dan negara. Lihatlah perjalanan panjang dinamika perjuangan bangsa. “It’s a long march”.  

Pergiliran peran adalah sunnatullah. Namun, siapapun pemerannya, arah panjang menuju masa depan  

bangsa sudah di jalan yang tepat, dengan disana-sini memerlukan perbaikan, atau kadang-kadang ada  

‘set-back’ yang kelak kembali harus diluruskan kembali pada waktunya. Setiap waktu ada orangnya,  

dan setiap orang ada waktunya yang tepat untuk menyumbang bagi kepentingan negeri. Jangan pernah  

putus mencinta Indonesia.

Kunci penyelesaian terhadap aneka permasalahan dalam dinamika politik nasional dewasa ini adalah  

kehendak untuk saling mendengar agar (i) terciptanya kehidupan yang rukun dan damai untuk  

memperkuat sinergi kebangsaan guna (i) mengatasi ancaman keselamatan bersama sebagai akibat  

pandemic covid-19, (ii) tuntutan untuk pemulihan ekonomi yang efektif dan berkeadilan, dan untuk  

(iii) mengantarkan estafeta kepemimpinan yang efektif dan bersinambung, bersifat transformational  

untuk pencerdasan dan pencerahan peradaban bangsa.  

Untuk itu, marilah kita senantiasa saling mengajak dan saling merangkul sebagai sesama warga  

bangsa, bukan malah saling menyebar kebencian dan permusuhan di antara sesama warga bangsa, sambil menonton dan takut dilibatkan atau melibatkan diri untuk ikut berperang dengan bangsa lain.  

Kita mendukung 7 himbauan Pengurus MUI yang baru, yaitu agar kita secara bersama saling:

Mengajak, bukan mengejek;

Merangkul, bukan memukul;

Menyayangi, bukan menyaingi;

Mendidik, bukan membidik;

Membina, bukan menghina;

Membela, bukan mencela; dan

Mencari solusi, bukan mencari simpati.

Akhirnya, marilah kita terus berdoa untuk umat, bangsa, negara, dan bahkan untuk dunia yang damai,  

pungkas Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH. 

*** Ocid Sutarsa